Hari-hari Abu Quhafah kini penuh dengan marah. Berkali-kali ia ajak anaknya untuk menyembah Tuhan orang-orang Mekkah
Namun selalu gagal.
Pada akhirnya ! Seperti hari itu, ketika anaknya justru meLEMPARi para 'TUHAN' dengan batu !
Menahan malu, Abu Quhafah buru-buru menyeret anaknya menjauh dari Ka'bah. Hanya berpikir bagaimana sampai ke rumah dan melanjutkan marah-marah. Abu Quhafah hampir tak mnyadari ketika seorang di depan pintu salah satu rumah melambaikan tangan.
"Abu Quhafah, kalian mau kemana?"
Abu Quhafah menoleh dan melihat saudaranya tersenyum di muka pintu rumahnya. "Ayo, mampir dulu ke rumahku", ujar lelaki itu.
"Ibnu Jud'an, aku sedang terburu-buru." Abu Quhafah berusaha tersenyum.
Dia merasa tak enak untuk menolak, namun memang tak ingin berlama-lama berada di situ. Ibnu Jud'an menengadah, melihat langit yang sedang cerah.
"Hari sedang baik.Tak perlu ada yang dikhawatirkan." Dia mndekati Abu Quhafah dan anaknya. "Ayo, kita bisa minum sedikit sambil mengobrol hal-hal menyenangkan".
Tak bisa menolak dengan alasan yang dibuat-buat sekalipun. Abu Quhafah akhirnya mengangguk sembari menepuk punggung anaknya. Bapak dan anak itu lalu mengikuti langkah tuan rumah.
Masih menyimpan kesal dan kekawatiran terhadap sikap anaknya, Abu Quhafah duduk menyandar ke dinding lumpur sembari melirik kepada Abdullah. Dia mulai berfikir, pergaulan Abdullah psti tlelah melenceng dari pengawasannya. Sangat tak wajar anak seusianya bisa menentang orang tua perihal penyembahan Tuhan berhala !
"Minumlah", Ibnu Jud'an muncul dari dalam. Ditangannya baki kecil dengan cangkir tanah liat dan sebotol arak.
"Arak terbaik yang baru saja kubeli !" Tersenyum mantap. "Aku sengaja mengundangmu untuk mencicipinya."
Abu Quhafah mengangguk sembari mngulurkan tangannya meraih cangkir tanah liat itu. "Terimakasih saudaraku". Pikiran seperti benang kusut, tenggorokan dahaga dan perasaan tak menentu. Abu Quhafah merasa tepat, ini wktunya menenggak arak. Sisa urusan serahkan kepada Tuhan.
Namun, baru saja bibir gelas hendak bersentuhan dengan bibirnya, Abu Quhafah mendapat kejutan besar !
Tangan kurus Abdullah melayang. Menghantam gelasnya hingga terpelanting
ke tanah.
Bersamaan dengan bunyi benda pecah dan caci maki Abu Quhafah, lelaki itu bangkit sembari bersiap mau memukul anaknya. Sudah memuncak murka di dada dan matanya !
"Wahai saudaraku !" Ibnu Jud'an yang mengkhawatirkan nasib anak saudaranya segera menghambur, meringkus tangan Abu Quhafah. "Bersabarlah."
Tangan Abu Quhafah masih berada di udara, sedangkan dadanya turun naik tak beraturan. Mata marahnya bertumbukkan dengan tatapan menantang Abdullah.
Ibnu Jud'an perlahan menurunkan tangan Abu Quhafah, lalu membimbingnya untuk duduk kembali.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan anakmu ini?" Ibnu Jud'an berhasil mengajak Abu Quhafah duduk lagi, meski dengan sedikit memaksa diri.
"Ceritakanlah kepadaku".
Abu Quhafah sibuk mengatur napas yang dipenuhi amarah. sambil menyandarkan
punggungnya ke dinding lumpur.
"Anak itu sungguh membuatku khawatir, Ibnu Jud'an" Suara Abu Quhafah gemetar.
"Dia memiliki perangai sangat aneh dan berlawanan dengan apa yang diyakini orang kebanyakan".
Ibnu Jud'an tampak kian penasaran, "Apa itu?"
"Tadi kami baru pulang dari tempat para Tuhan. Anakku kusuruh untuk menyembah Tuhan Hubal." Abu Quhafah menoleh ke anaknya yang sekarang duduk sembari menatap lantai tanah.
"Anak itu menolak !", Abu Quhafah kembali hendak marah.
"Entah siapa yang mengajarinya, tapi dia benar-benar menolak perintahku !". Mata Ibnu Jud'an terbelalak. Tak percaya rasanya. Ini urusan yang belum ada sebelumnya.
Kepalanya lantas menoleh ke Abdullah dan kian keheranan ketika melihat sosok bocah kurus, sekilas tak beda dengan anak-anak Mekkah lainnya.
"Wahai anakku", Ibnu Jud'an menegur Abdullah. "Mengapa engkau tidak mau menyembah Hubal, Tuhan kita?"
Abdullah mengangkat wajahnya,
"Aku tidak mau menyembah batu yang tidak bisa memberi sesuatu kepadaku !"
Dari keheranan, sekarang berbinar mata Ibnu Jud'an mndengar jawaban Abdullah. Dia menoleh ke Abu Quhafah.
"Wahai saudaraku. Aku bahkan mengharapkan memiliki anak secerdik anakmu ini !"
Ibnu Jud'an menemukan ketidakmengertian pada tatapan Abu Quhafah. "Menurut perkiraanku, anakmu kelak akan menjadi orang terhormat dan terpandang di tengah rakyatnya."
Abu Quhafah memiringkan kepalanya.
Tak percaya. Dalam hatinya Abu Quhafah berkata, "Semua orang membicarakan cucu Abdul Muthalib. Mereka mengatakan
Anak Abdullah itu akan menjadi ORANG BESAR. Tapi, sekarang Ibnu Jud'an mngatakan anakku pun akan menjadi
orang besar. Benarkah?"
"Jika Abdullah Bin Abdul Muthalib menurunkan anak yang masa dewasanya diramalkan gemilang, apakah Abdullah Bin Abu Quhafah bermasa depan megah?"
Ibnu Jud'an tak terlalu memperhatikan reaksi Abu Quhafah. Dia lantas menoleh lagi ke Abdullah kecil. "Lalu, mengapa engkau memukul cangkir ayahmu?"
Abdullah mengangkat wajahnya lagi. Tidak ada keraguan pada garis wajahnya, seolah kata-katanya diDIKTEkan oleh
orang dewasa. "Aku tahu air itu adalah arak yang memabukkan. Aku malu kalau nanti ayah berteriak-teriak dan menari-nari di jalanan seperti orang gila."
Ibnu Jud'an tampak kian takjub dengan jawaban anak saudaranya itu. Sementara
Abu Quhafah justru sebaliknya. Pikiran-pikiran menakutkan menggelayuti kepalanya. Kata hatinya,
"Apa yang akan terjadi di masa depan? Akan menjadi apa anakku ini nanti? Seperti apakah kedudukannya dibanding cucu
Abdul Muthalib?"
Siapakah Abdullah kecil Bin Abu Quhafah?
Ya, benar !
Dia Khalifah pertama dalam Islam.
Yang melanjutkan estafet Risallah Rasullah!
Sahabat Utama Rasulullah yang dijamin masuk Surga setelah Beliau.
Bahkan, langsung redaksinya dari lisan Rasulullah!
Sahabat yang sebelum masuk Islam memang sudah terjaga hati dan perilakunya oleh Allah SWT.
Sahabat yang memberikan sepenuh hartanya untuk dakwah Islam tanpa meninggalkan sedikitpun untuk keperluan keluarganya, karena begitu yakin bahwa Allah menjaga keluarganya.
Sahabat yang sekaligus juga merupakan mertua Rasulullah dari Istri Jenius yang sangat Beliau cintai. Seorang Istri yang menjadi Perawi Hadist Beliau lebih dari 5000 Hadist! Aisyah Ra Binti Abu Bakar !
Seorang Sahabat Utama yang memperoleh gelar Ash-SHIDDIQ karena perkataannya selalu mengiyakan ucapan Rasulullah
Dialah ABU BAKAR Ash-SHIDDIQ, Sang Abdullah Kecil Bin Abu Quhafah,
Kulafaur Rassyidin.
by @nieke_aereta
Just me, myself and I
Friday, March 22, 2013
Live & Learn »
opini
» Abu Bakar AshShiddiq The Successor
Abu Bakar AshShiddiq The Successor
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment