Saturday, September 5, 2015

#melawanasap

Bidal Melayu
Tentang Lingkungan

Apabila rusak alam sekitar
Sempit tidak dapat bergelegar
Goyah tidak dapat bersandar
Panas tidak dapat mengekas
Hujan tidak dapat berjalan
Teduh tidak dapat berkayuh

Apabila alam sudah binasa
Bala turun celaka tiba
Hidup melarat terlunta-lunta
Pergi ke laut malang menimpa
Pergi ke darat miskin dan papa

Apabila alam menjadi rusak
Turun temurun hidup kan papa
Pergi ke laut ditelan ombak
Pergi ke darat kepala tersundak
Hidup susah dadapun sesak
Periuk terjerang nasi tak masak

Apabila alam menjadi punah
Hidup dan mati tak kan semenggah
Siang dan malam ditimpa musibah
Pikiran kusut hati gelebah

Apabila rusak alam lingkungan
Di situlah puncak segala kemalangan
Musibah datang berganti-gantian
Celaka melanda tak berkesudahan
Hidup sengsara binasalah badan
Cacat dan cela jadi langganan
Hidup dan mati jadi sesalan

Apabila alam porak poranda
Di situ tumbuh silang sengketa
Aib datang malu menimpa

#melawanasap
kembalikan #langitbiru kami

Just me, myself and I


Friday, August 21, 2015

Elegi Kehidupan

Elegi Kehidupan

Ketika ajal menjemput ...
toa masjid berkumandang
pemandian dipersiapkan
kain kafan dicabik
liang lahat digali
bunga rampai dijahit

Karib kerabat
handai taulan
jiran tetangga
berkumpul tanpa jemputan
menunjukkan empati
berbagi simpati

Berkerumun
saling cerita
menggali ingatan
membangkit kenangan
yang baik yang buruk
yang membanggakan yang memalukan
terisak tersedu

Kubur ditimbun
nisan ditanam
pelayat kembali
silaturahmi terputus
segala asa pupus

Kematian ...
bukanlah sebuah akhir
ia hanyalah prasasti
sebagai penanda
sebagai pengingat
batas kefanaan

Episode baru kehidupan
Dimulai ....

Just me, myself and I
Pekanbaru, Jum'at, 21 Agustus 2015

Thursday, December 25, 2014

10 Tahun Tsunami Aceh

Ahad pagi, 26 Desember 2004,
Sinar matahari ramah menyapa Bumi Serambi Makkah.
Masyarakat melakukan aktivitas seperti biasa, menikmati hari libur.
Tak ada yang menyadari,
pada kedalaman 10 kilometer di perut bumi,
sekitar 100 kilometer sebelah barat Aceh,
lapisan bumi sedang bergerak.

Lempeng Samudera Hindia bergerak sekitar 30 milimeter setiap tahun,
mengimpit lempeng Sumatera-Andaman (pulau di Samudera Hindia yang masuk wilayah India).
Energi yang terakumulasi selama 300 tahun akhirnya membuncah.
Pulau-pulau dan dasar lautan di sebelah palung sepanjang 1.600 kilometer itu
terpelanting 10-30 meter ke barat dan dasar lautan terangkat beberapa meter.

Dampaknya langsung terasa.
Tepat pukul 07.58.53 WIB, 10 tahun silam, Aceh terguncang hebat.
Getarannya terasa hingga Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, Thailand, Myanmar dan Maladewa.
Ribuan bangunan roboh dan hancur.
Ratusan ribu orang terhenyak oleh gempa dengan kekuatan 9,3 Skala Richter.

Namun itu baru awal dari bencana dahsyat berikutnya, #tsunami.
Saat warga panik dan berusaha menyelamatkan diri,
gelombang laut setinggi 10 meter
dengan kecepatan 800 kilometer per jam

menerjang Banda Aceh,
meluluhlantakkan apa saja yang dilaluinya.
Gelombang juga menjalar ke beberapa negara.
Total korban di 15 negara diperkirakan

mencapai 230.000 jiwa,
160.000 di antaranya adalah warga Aceh.

10 tahun #tsunamiaceh

.......... ........... ...........

Danny Hilman Natawidjaja adalah
Direktur Program Penelitian Gempa Bumi di
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Empat bulan sebelum 26 Desember 2004,
saya sudah memperingatkan potensi gempa dan tsunami itu."

Proyeksi dan ramalan tentang gempa Aceh
telah diinfokan olehnya jauh hari sebelum kejadian.
Pada tahun 2000,
bersama Profesor Kerry Sieh dari Caltech Tectonic Observatory,
ia menulis di Journal of Geophysical Research,
jurnal paling bergengsi di kalangan ahli geologi dunia,
dengan judul Neotectonics of the Sumatran Fault.
Pada tahun 2004, sebelum gempa terjadi,
Danny Hilman Natawidjaja kembali menerbitkan tulisan di journal tersebut
berjudul Paleo Geodesy of the Sumatera Subduction Zone.

Kesadaran masyarakat dan pemerintah
terhadap bahaya gempa masih kurang.

Padahal Indonesia adalah 'SuperMarket' #gempa,
karena segala jenis gempa ada, mulai tektonik hingga vulkanik.
Tak ada satu wilayah pun di Indonesia yang bebas dari ancaman gempa.

Salah satu tujuan meneliti gempa adalah proyeksi atau ramalan.
Dengan begitu, pemerintah dan masyarakat bisa melakukan langkah antisipasi sebelum gempa benar-benar terjadi.

Gerakan-gerakan lempeng bumi dipetakan.
Berdasarkan data gempa periode sebelumnya,
bisa dibuat proyeksi kapan gempa berikutnya akan terjadi dan
berapa besar potensi kekuatannya.
Proyeksi yang dibuat bisa untuk
jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.
Untuk mitigasi risiko bencana,
harus tahu detail bencananya.
Untuk tahu detail bencana,
perlu data yang hanya bisa didapat melalui penelitian.
Tidak ada orang yang bisa memprediksi dengan tepat kapan gempa terjadi.
Namun proyeksi tersebut harus menjadi panduan bagi pemerintah
untuk menyusun mitigasi risiko.
Tujuannya, jika gempa benar-benar terjadi,
pemerintah dan masyarakat sudah siap.


*menukil tulisan (ari/ted) dengan judul
Pakar Gempa Danny Hilman Natawidjaja
tentang Gempa Aceh 10 Tahun Silam.
sub judul
Ramalannya Jitu, Ingatkan Potensi Gempa Selat Sunda.
pada Harian Pagi RIAU POS,
edisi Kamis, 25 Desember 2014.
Ditulis ulang oleh Hefflin Lazuardi



Just me, myself and I

Powered by Blogger Bertuah Pekanbaru | Themes by Belajar Blog