Thursday, December 25, 2014

10 Tahun Tsunami Aceh

Ahad pagi, 26 Desember 2004,
Sinar matahari ramah menyapa Bumi Serambi Makkah.
Masyarakat melakukan aktivitas seperti biasa, menikmati hari libur.
Tak ada yang menyadari,
pada kedalaman 10 kilometer di perut bumi,
sekitar 100 kilometer sebelah barat Aceh,
lapisan bumi sedang bergerak.

Lempeng Samudera Hindia bergerak sekitar 30 milimeter setiap tahun,
mengimpit lempeng Sumatera-Andaman (pulau di Samudera Hindia yang masuk wilayah India).
Energi yang terakumulasi selama 300 tahun akhirnya membuncah.
Pulau-pulau dan dasar lautan di sebelah palung sepanjang 1.600 kilometer itu
terpelanting 10-30 meter ke barat dan dasar lautan terangkat beberapa meter.

Dampaknya langsung terasa.
Tepat pukul 07.58.53 WIB, 10 tahun silam, Aceh terguncang hebat.
Getarannya terasa hingga Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, Thailand, Myanmar dan Maladewa.
Ribuan bangunan roboh dan hancur.
Ratusan ribu orang terhenyak oleh gempa dengan kekuatan 9,3 Skala Richter.

Namun itu baru awal dari bencana dahsyat berikutnya, #tsunami.
Saat warga panik dan berusaha menyelamatkan diri,
gelombang laut setinggi 10 meter
dengan kecepatan 800 kilometer per jam

menerjang Banda Aceh,
meluluhlantakkan apa saja yang dilaluinya.
Gelombang juga menjalar ke beberapa negara.
Total korban di 15 negara diperkirakan

mencapai 230.000 jiwa,
160.000 di antaranya adalah warga Aceh.

10 tahun #tsunamiaceh

.......... ........... ...........

Danny Hilman Natawidjaja adalah
Direktur Program Penelitian Gempa Bumi di
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Empat bulan sebelum 26 Desember 2004,
saya sudah memperingatkan potensi gempa dan tsunami itu."

Proyeksi dan ramalan tentang gempa Aceh
telah diinfokan olehnya jauh hari sebelum kejadian.
Pada tahun 2000,
bersama Profesor Kerry Sieh dari Caltech Tectonic Observatory,
ia menulis di Journal of Geophysical Research,
jurnal paling bergengsi di kalangan ahli geologi dunia,
dengan judul Neotectonics of the Sumatran Fault.
Pada tahun 2004, sebelum gempa terjadi,
Danny Hilman Natawidjaja kembali menerbitkan tulisan di journal tersebut
berjudul Paleo Geodesy of the Sumatera Subduction Zone.

Kesadaran masyarakat dan pemerintah
terhadap bahaya gempa masih kurang.

Padahal Indonesia adalah 'SuperMarket' #gempa,
karena segala jenis gempa ada, mulai tektonik hingga vulkanik.
Tak ada satu wilayah pun di Indonesia yang bebas dari ancaman gempa.

Salah satu tujuan meneliti gempa adalah proyeksi atau ramalan.
Dengan begitu, pemerintah dan masyarakat bisa melakukan langkah antisipasi sebelum gempa benar-benar terjadi.

Gerakan-gerakan lempeng bumi dipetakan.
Berdasarkan data gempa periode sebelumnya,
bisa dibuat proyeksi kapan gempa berikutnya akan terjadi dan
berapa besar potensi kekuatannya.
Proyeksi yang dibuat bisa untuk
jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.
Untuk mitigasi risiko bencana,
harus tahu detail bencananya.
Untuk tahu detail bencana,
perlu data yang hanya bisa didapat melalui penelitian.
Tidak ada orang yang bisa memprediksi dengan tepat kapan gempa terjadi.
Namun proyeksi tersebut harus menjadi panduan bagi pemerintah
untuk menyusun mitigasi risiko.
Tujuannya, jika gempa benar-benar terjadi,
pemerintah dan masyarakat sudah siap.


*menukil tulisan (ari/ted) dengan judul
Pakar Gempa Danny Hilman Natawidjaja
tentang Gempa Aceh 10 Tahun Silam.
sub judul
Ramalannya Jitu, Ingatkan Potensi Gempa Selat Sunda.
pada Harian Pagi RIAU POS,
edisi Kamis, 25 Desember 2014.
Ditulis ulang oleh Hefflin Lazuardi



Just me, myself and I

Bandar Seni Raja Ali Haji

Bandar Seni Raja Ali Haji
(Bandar Serai)

Minggu malam tanggal 7 September 2014, sekitar jam 19.30 WIB, bersama Latifa Aulia, anak perempuanku yang berumur 7 tahun 9 bulan, menggunakan sepeda motor, kami mencoba menikmati suasana malam kota Pekanbaru.
Setelah mengisi bahan bakar di sebuah SPBU, kami menuju ke arah kompleks Bandar Serai (Seni Raja Ali Haji) yang terletak di jalan Jenderal Soedirman kelurahan Simpang Tiga, kecamatan Bukit Raya, tak jauh dari bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II (dahulu bernama bandara Simpang Tiga).

Sambil menunggu jagung yang sedang dibakar, tak jauh dari gerbang utama Bandar Serai, kami duduk dikursi yang disusun pedagang di atas pedestrian. (melanggar perda kah ?), aku mencoba mengenang kembali keberadaan dan perjalanan Bandar Serai.

Kompleks ini pada tahun 1994 menjadi pusat kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XVII di Pekanbaru Riau. MTQ paling spektakuler pada saat itu, sepanjang sejarah dilaksanakannya MTQ sejak 1968, dibuka langsung oleh H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia.
Bukan hanya acara pembukaan, pelaksanaan serta acara penutupannya saja yang prestisius, kompleks ini sungguh megah.
Astaka dan panggung penonton yang besar serta indah dengan konsep arsitektur melayu Riau, penuh dengan berbagai ragam jenis ukiran khas Riau seakan mempertontonkan kekayaan seni rupa melayu.
4 bangsal besar berarsitektur melayu seolah menjadi pagar yang kokoh bagi 8 rumah adat (anjungan) beberapa wilayah di Riau, dibangun melingkari lapangan utama.
Lapangan utama sendiri selain berfungsi sebagai pembatas antara astaka dengan panggung penonton, juga memiliki fungsi sebagai tempat berkumpul masyarakat, selayaknya ruang tengah sebuah rumah. Lapangan parkir luas dan tertata serta ditanami dengan tanaman hias yang asri dan rapi seakan menjadi halaman bagi miniatur provinsi Riau (saat itu provinsi Kepulauan Riau masih menjadi bahagian provinsi Riau) di atas lahan seluas 3,5 ha.
Tamu undangan dan kafilah peserta MTQ Nasional terpesona dan berdecak kagum.
Arena MTQ ini menjadi 'landmark' kota Pekanbaru.

Segera setelah selesainya pelaksanaan MTQ Nasional tersebut, provinsi Riau, kota Pekanbaru khususnya, seolah menjadi magnet bagi investor, baik dalam maupun luar negeri. Pekanbaru mulai menggeliat, beberapa 'landmark' lainnya berdiri, seolah berpacu dengan tingginya angka urbanisasi setiap tahun. Pekanbaru menjadi daerah tujuan utama investasi, angka pertumbuhan penduduk meningkat dengan tajam.

Semua hal itu melenakan pemerintah provinsi Riau dan pemerintah kota Pekanbaru. Arena Purna MTQ yang kemudian diberi nama Bandar Seni Raja Ali Haji (Serai) tidak mendapat perhatian dan kemudian menjadi terlantar, terbengkalai.
Aset daerah bernilai milyaran rupiah itu disia-siakan.
Perlahan, seiring waktu, kemegahan dan kemewahan kompleks ini mulai memudar. Bahkan kesakralan kompleks yang pernah dijadikan kegiatan keagamaan ini ternoda oleh ulah oknum masyarakat yang berbuat mesum.

Tidak adanya Badan Pengelola menjadikan kompleks ini seperti rumah yang tidak berpenghuni.
Hal ini menggugah perhatian beberapa seniman Riau yang terhimpun dan bernaung dalam wadah Dewan Kesenian Riau (DKR). Dibawah komando Ediruslan Pe Amanriza (alm), para seniman sepakat untuk menjadikan kompleks ini sebagai taman bermain sekaligus pusat kegiatan seni dan budaya Melayu Riau di Pekanbaru. Perhimpunan para seniman ini akhirnya melahirkan Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), kini menjadi Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR).

Aroma harum jagung bakar telah terhidang di depan kami. Diiringi alunan lagu pemusik jalanan dan siraman lampu kendaraan yang tak hentinya melintas, kami berdua segera menyantap dengan lahap jagung bakar tersebut. Sementara itu pikiranku terus menerawang.

Dalam perjalanannya, lebih dari satu dasa warsa kemudian, berdirilah sebuah Gedung Kesenian yang representatif, megah dan memenuhi segala persyaratan yang dibutuhkan untuk sebuah gedung pertunjukan seni dan budaya. Gedung itu bernama Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT).
Pada 14 Desember 2007, gedung ini menjadi saksi bisu bagi film Naga Bonar Jadi 2 dan aktor utamanya, Dedi Mizwar, meraih piala Citra dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) yang dilaksanakan di Pekanbaru.
Meskipun pembangunan Gedung ini meluluhlantakkan sebagian besar bangunan purna MTQ, seperti panggung penonton, 4 bangsal besar yang sering digunakan untuk kegiatan 'Riau Expo' dan 'Pekanbaru Fair' serta astaka, masyarakat Pekanbaru dan masyarakat Riau cukup berbesar hati. Telah hadir sebuah 'landmark' baru yang fenomenal.
Rancang bangun gedung bergaya melayu, lengkap dengan segala jenis atribut dan ukiran ciri khas melayu Riau.
Fenomenal, karena langsung menggelar kegiatan berskala nasional, FFI, yang menghabiskan dana APBD Riau sebesar 7,2 milyar rupiah. Meskipun Badan Eksekuti Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Negeri Sutan Syarif Qasim (SUSQA) dan Universitas Islam Riau (UIR) menggelar demo menolak penyelenggaraan FFI pertama di luar Jakarta dalam kurun waktu 22 tahun terakhir, bahkan yang pertama di luar pulau Jawa, acara ini tetap berlangsung dan sukses.

Euforia pelaksanaan FFI selesai, masyarakat Pekanbaru kembali ke alam nyata setelah diharu biru dengan hadirnya artis-artis nasional. Setelah segala puja puji terhadap kemegahan dan keindahan ASIT berlalu, pemerintah mulai disibukkan dengan niat Provinsi Riau untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional XVIII pada tahun 2012.
Bandar Serai termasuk salah satu lokasi yang akan bersolek untuk menyambut tetamu dari seluruh Indonesia. Di bagian Selatan kompleks ini, dibangun salah satu venue olahraga yang akan dipertandingkan dalam PON. Bahkan dibangun juga gedung yang diperuntukkan bagi kegiatan kerajinan daerah.
Di sebelah Utara, direncanakan akan dibangun beberapa gedung terpadu, lengkap dengan segala fasilitas, sejatinya adalah kompleks bisnis namun juga menyediakan sarana yang dapat digunakan panitia pelaksana PON untuk menyelenggarakan pertandingan olahraga tertentu. Kompleks bisnis ini bertajuk Riau Town Square (RITOS).

Kegenitan pemerintah provinsi Riau dalam mengeksploitasi kompleks Bandar Serai, seperti para remaja yang sedang kasmaran dan memadu kasih di kompleks ini. Mereka tak peduli dengan keadaan sekitarnya.
Demikian juga halnya dengan pemerintah, mereka tak peduli. Bahwa akibat pembangunan RITOS, 4 rumah adat daerah (anjungan) yang ada di sebelah Utara telah punah ranah dan bahkan mereka juga tidak peduli bahwa Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT) butuh perhatian, butuh perawatan dan butuh pemeliharaan.
Seolah mendapatkan karma dari Bandar Serai,
ASIT terabaikan !
ASIT terpinggirkan !
Sama persis dengan kejadian yang di alami oleh Bandar Serai sebelumnya.

Meskipun pembangunan RITOS kemudian terhenti -entah disebabkan apa-, tidak membuat pemerintah berpaling.
Meskipun pelaksanaan PON juga telah selesai dan para atlet telah kembali ke daerah masing-masing, tak membuat pemerintah bergeming.
ASIT bagaikan punguk merindukan bulan.

Seniman Riau kembali bergerak, seniman Riau kembali merapatkan barisan. Kali ini dengan bendera Forum Seniman Riau (FOSER) -DKR entah kemana-, mereka menuntut agar pemerintah memberikan perhatian terhadap ASIT, karena ASIT itu ASET, kata mereka.
Aset yang menjadikan Riau Cemerlang, Gemilang dan Terbilang.

Entahlah .....
Apakah 10 tahun ke depan anakku masih akan mengenal Bandar Seni Raja Ali Haji ?
Apakah anaakku masih akan dapat menikmati pertunjukkan seni dan budaya di gedung ASIT ?
Ataukah aset daerah yang memiliki nilai histori bagi kejayaan bumi Lancang Kuning ini hanya akan bisa dibaca melalui buku yang tersimpan di gedung pustaka Sjuman Hs. ('landmark' lain kota Pekanbaru).
Tinggal nama atau bahkan namanya pun ikut terkubur seperti Gedung Ediruslan Pe Amanriza yang terkubur bersama orangnya.
Entahlah .....

Jagung bakar telah habis kami santap, minuman dingin dalam botol pun telah tandas. Waktu menunjukkan jam 21.00 WIB. Saatnya untuk pulang.
Ketika berkemas akan pulang, seorang juru parkir menyodorkan karcis parkir dan meminta uang senilai 2.000 rupiah untuk parkir sepeda motor di kawasan Bandar Serai. Ketika ditanya dasar hukumnya, petugas berkelit hal itu sudah biasa dan sudah berlangsung lama. Walaupun merasa diperas, aku bayar saja untuk menghindari ketegangan -karena bersama anak perempuanku- . Namun setelah aku periksa karcisnya -ternyata (aku anggap) meskipun itu karcis resmi karena ada perporasi dan lambang Dishub serta lambang kota Pekanbaru-, karcis itu untuk kendaraan roda 4.
Aku bingung ....
juru parkir di kompleks Bandar Serai itu liar atau resmi, karena tidak memakai atribut dan tidak ada tanda pengenal serta memberikan karcis yang tidak sesuai peruntukkannya.
Masalah kecil yang masih perlu dibenahi oleh dinas Perhubungan kota Pekanbaru.

Kami segera pulang sambil berharap pemerintah provinsi Riau dan pemerintah kota Pekanbaru berkenan memberikan perhatian kepada Bandar Serai dan ASIT. Aku juga berharap anakku masih akan dapat menikmati suasana malam kota Pekanbaru di kompleks Bandar Serai ketika dia sudah lebih dewasa, kelak.

Selamat BerJUANG teman-teman seniman Riau !

Just me, myself and I

Powered by Blogger Bertuah Pekanbaru | Themes by Belajar Blog