Sunday, September 22, 2013

KOTA BAWAH

Kota Bawah.
Yusmar Yusuf dalam rubrik PERISA
Riau Pos Ahad 22 September 2013

Sesuatu yang nampak kasat mata, seolah-olah dia tunggal. Sejarah menggarap kenyataan tunggal ini, tak terkecuali sejarah perjalanan kota. Kota hanya persoalan sesuatu yang nampak dari sisi teresterial, penampang horizontal. Sesuatu yang terpacak vertikal di atas bidang datar tanah dan lahan. Di atas bidang datar inilah manusia melempar sejarah tentang 'perjumpaan-perjumpaan kreatif' yang kemudian menghasilkan 'pusat-pusat keriangan' yang selanjutnya disebut sebagai KOTA.

.......

Sesuatu yang berada di bawah permukaan kota, tidak dapat diangkat menjadi fenomena komunitas. Hanya sederet kematian dan perintah para bangkai. Bawah permukaan kota tak menghidangkan peradaban. Padahal, sistim pertahanan paling akhir, ketika manusia tak mungkin menggunakan akal sehat dalam letupan serba datar, orang-orang sepanjang sulingan sejarah harus menggali tanah, membuat lubang, lorong, parit bawah tanah, kanal bawah tanah, hanya untuk menghindari beringas permukaan. ....
.....

Sejatinya, sebuah kota yang berada di puncak pencapaian kebudayaan yang ranggi dan tinggi, dia dipikul oleh sebuah sistim kota bawah tanah yang rapi, tersusun dengan fungsi-fyngsi utilitas warga seperti jejaring pipa gas, pipa air bersih, jejaring telepon dan kabel optik, jejaring teknologi nano yang terangkai menjadi sebuah taman bawah tanah nan permai.
Dalam keadaan darurat, kawasan bawah tanah ini bisa berfungsi sebagai bunker, benteng pertahanan warga kota, sebagai wilayah selamat ketika negara dalam keadaan perang. Masa damai, ruang-ruang bawah tanah bisa menghadirkan kanal-kanal bergaris diagonal atau malah vertikal untuk mengendalikan banjir dan pembuangan air bah yang melanda kawasan permukaan kota.
.......
.......
Kota diurus dengan selera seorang penguasa yang berkuasa.
Kota bukan persoalan kuasa dan penguassa. Dia adalah persoalan LAYAK HUNI, LAYAK HIDUP, LAYAK HIRUP, LAYAK HIDU, LAYAK PANDANG dan LAYAK menjalani masa PENSIUN bagi warga tua.
Bagu kanak-kanak, kota hendaklah menjadi istana atau malah surga untuk membongkar dan mengguncang kreatifitas, pemancing untuk senantiasa bergerak, kreatif tiada henti melakukan temuan-temuan, melahirkan kenyataan kreatif yang berujung pada industri kreatif.
Kesalahan dasar mempersepsi kota selama ini, hanya setakat persoalan suksesi para 'incumbent' dan para petarung berikutnya dalam sebuah rebut-rebutan wilayah permukaan kuasa. Ujungnya, yang tersisa hanya cerita kalah dan menang.
Kota tak dilihat sebagai ruang bersama yang menyediakan utilitas yang beruas-ruas; baik dimensi horizontal, pemanfaatan ruang udara bersama, termasuk juga penyediaan sendi-sendi utilitas perkotaan yang berada di bawah tanah sana. Sehingga sebuah kota itu, LAYAK HUNI !

Just me, myself and I



0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger Bertuah Pekanbaru | Themes by Belajar Blog